SELAMAT DATANG
MUSLIM/AH SEJATI

Minggu, 30 September 2012

"Makkiyah Dan Madaniyyah"



"Makkiyah Dan Madaniyyah"
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Makkiyyah dan Madaniyyah
Para sarjana muslim mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminologi Makkiyyah dan Madaniyyah. Keempat perspektif itu adalah: Masa turun (zaman an-nuzul), tempat turun (makan an-nuzul), objek pembicaraan (mukhathab) dan tema pembicaraan (maudu’).[1]
Dari perspektif masa turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut :






Artinya :
“Makkiyyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Mekkah, sedangkan Madaniyah adalah ayat-ayat yang turun sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut Madaniyah walaupun turun di Mekah atau arafah.”[2]



Dengan demikian, surat An-Nisa' [4] : 58[3] termasuk kategori Madaniyyah kendatipun diturunkan di Mekah, yaitu pada peristiwa terbukanya kota Mekah (fath makkah). Begitu pula, surat Al-Ma'idah [5] : 3[4] termasuk kategori Madaniyyah kendatipun tidak diturunkan di Madinah karena ayat itu diturunkan pada peristiwa haji wada'.[5]
Dari perspektif tempat turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut:





Artinya :
“Makkiyyah ialah ayat-ayat yang turun di Mekah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyah, sedangkan Madaniyah adalah ayat-ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya, seperti Uhud, Quba’, dan Sul’a.”[6]
Terdapat celah kelemahan dari pendefinisian di atas sebab terdapat ayat-ayat tertentu, yang tidak diturunkan di Mekah dan di Madinah dan sekitarnya. Misalnya surat At-Taubah [9] : 42[7] diturunkan di Tabuk, surat Az-Zukhruf [43] : 45[8] diturunkan di tengah perjalanan antara Mekah dan Madinah. Kedua ayat tersebut, jika melihat definisi kedua, tidak dapat dikategorikan ke dalam Makiyyah dan Madaniyyah.


Dari perspektif objek pembicaraan, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut :




Artinya :
“Makkiyyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-orang Mekah. Sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-orang Madinah.”[9]
Pendefinisian di atas dirumuskan para sarjana muslim berdasarkan asumsi bahwa kebanyakan ayat Al-Qur’an dimulai dengan ungkapan “ya ayyuha an-naas” yang menjadi kriteria Makiyyah, dan ungkapan “ya ayyuha al-ladziina” yang menjadi kriteria Madaniyyah. Namun, tidak selamanya asumsi ini benar. Surat Al-Baqarah [2], misalnya, termasuk kategori Madaniyyah, padahal di dalamnya terdapat salah satu ayat, yaitu ayat 21[10] dan ayat 168[11], yang dimulai dengan ungkapan ‘ya ayyuha an-naas". Lagi pula, banyak ayat Al-Qur’an yang tidak dimulai dengan dua ungkapan di atas.
Adapun pendefinisian Makkiyyah dan Madaniyyah dari perspektif tema pembicaraan akan disinggung lebih terinci dalam uraian karakteristik kedua klasifikasi tersebut.
Kendatipun mengunggulkan pendefinisian Makkiyyah dan Madaniyyah dari perspektif masa turun, Subhi Shalih melihat komponen-komponen serupa dalam tiga pendefinisian. Pada ketiga versi itu terkandung komponen masa tempat dan orang.[12] Bukti lebih lanjut dari tesis Shalih diatas bisa dilihat dalam kasus surat Al-Mumtahanah [60]. Bila dilihat dari perspektif tempat turun, surat itu termasuk Madaniyyah karena diturunkan sesudah peristiwa hijrah. Akan tetapi, dalam perspektif objek pembicaraan, surat itu termasuk Makkiyyah karena menjadi khitab bagi orang-orang Mekah. Oleh karena itu, para sarjana muslim memasukkan surat itu ke dalam “Ma nuzila bi Al-Madinah wa hukmuhu Makki” (ayat-ayat yang diturunkan di Madinah, sedangkan hukumnya termasuk ayat-ayat yang diturunkan di Mekah).[13]

B.     Cara-Cara Mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah
Dalam menetapkan mana ayat-ayat Al-Qur’an yang termasuk kategori Makkiyyah dan Madaniyyah, para sarjana muslim berpegang teguh pada dua perangkat pendekatan.[14]
1.    Pendekatan Transmisi (Periwayatan)
Dengan perangkat pendekatan transmisi, para sarjana muslim merujuk kepada riwayat-riwayat valid yang berasal dari para sahabat, yaitu orang-orang yang besar kemungkinan menyaksikan turunnya wahyu, atau para generasi tabi’in yang saling berjumpa dan mendengar langsung dari para sahabat tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan proses kewahyuan Al-Qur’an, termasuk di dalamnya adalah informasi kronologis Al-Qur’an.
Dalam kitab Al-Intishár, Abu Bakar bin Al-Baqilani lebih lanjut menjelaskan :
“Pengetahuan tentang Makkiyyah dan Madaniyyah hanya bisa dilacak pada otoritas sahabat dan tabi’in saja. Informasi itu tidak ada yang datang dari Rasulullah SAW karena memang ilmunya tentang itu bukan merupakan kewajiban umat.”[15]
Seperti halnya hadis-hadis Nabi telah terekam dalam kodifikasi-kodifikasi kitab hadis, para sarjana muslim pun telah merekam informasi dari para sahabat dan tabi’in tentang Makkiyyah dan Madaniyyah dalam kitab-kitab tafsir bi Al-matsur, tulisan-tulisan tentang asbab An-Nuzul, pembahasan-pembahasan ilmu-ilmu Al-Qur’an, dan jenis-jenis tulisan lainnya.
Otoritas para sahabat dan para tabi’in dalam mengetahui informasi kronologi Al-Qur’an dapat dilihat dari statemen-statemennya. Dalam salah satu riwayat  Al-Bukhari, Ibn Mas'ud berkata :








Artinya :
“Demi zat tang tidak ada tuhan selainnya, tidak ada satupun dari kitab Allah yang turun, kecuali aku tahu untuk siapa dan di mana diturunkan. Seandainya aku tahu tempat orang yang lebih paham dariku tentang kitab Allah, pasti aku akan menjumpainya.”[16]
Dalam riwayat lain disebut bahwa Ibn Abbas berkata, ketika ditanya oleh Ubai bin Ka'ab mengenai ayat yang diturunkan di Madinah, Terdapat dua puluh surat yang diturunkan di Madinah, sedangkan jumlah surat sisanya di Mekah.[17] As-Suyuthi menyediakan beberapa lembar dalam kitab Al-‘Itqan-nya untuk  merekam riwayat-riwayat dari sahabat dan tabi’in mengenai perangkat periwayatan dalam mengetahui kronologis Al-Qur’an.[18]
2.    Pendekatan Analogi (Qiyas)
Ketika melakukan kategorisasi Makkiyyah dan Madaniyyah, para sarjana muslim penganut pendekatan analogi bertolak dari ciri-ciri spesifik dari kedua klasifikasi itu. Dengan demikian, bila dalam surat Makkiyyah terdapat sebuah ayat yang memiliki ciri-ciri khusus Madaniyyah, ayat ini termasuk kategori ayat Madaniyyah. Tentu saja, para ulama telah menetapkan tema-tema sentral yang ditetapkan pula sebagai ciri-ciri khusus bagi kedua klasifikasi itu. Misalnya mereka menetapkan tema kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu sebagai ciri khusus Makkiyyah, tema faraid dan ketentuan had sebagai ciri khusus Madaniyyah.[19]
C.    Ciri-Ciri Spesifik Makkiyyah dan Madaniyyah
Seperti telah diuraikan di atas, para sarjana muslim telah berusaha merumuskan ciri-ciri spesifik Makkiyyah dan Madaniyyah dalam menguraikan kronologis Al-Qur’an. Mereka mengajukan dua titik tekan dalam usahanya itu, yaitu titik tekan analogi dan titik tekan tematis.
Dari titik tekan analogi, mereka memformulasikan ciri-ciri khusus Makkiyyah dan Madaniyyah sebagai berikut :
1.    Makkiyyah :
a.    Di dalamnya terdapat ayat sajdah;
b.    Ayat-ayatnya dimulai dengan kata “kalla”;
c.    Dimulai dengan ungkapan “ya ayyuha an-naas” dan tidak ada ayat yang dimulai dengan ungkapan “ya ayyuha Al-ladzina”, kecuali dalam surat Al-Hajj [22], karena di penghujung surat itu terdapat sebuah ayat yang dimulai dengan ungkapan “ya ayyuha Al-ladzina”;
d.   Ayat-ayatnya mengandung tema kisah para nabi dan umat-umat terdahulu;
e.    Ayat-ayatnya berbicara tentang kisah Nabi Adam dan iblis, kecuali surat     Al-Baqarah [2]; dan
f.     Ayat-ayatnya dimulai dengan huruf-huruf terpotong-potong (huruf at-tahajji) seperti “alif lam mim” dan sebagainya, kecuali surat Al-Baqarah [2] dan Ali ‘lmran [3].[20]



2.    Madaniyyah :
a.    Mengandung ketentuan-ketentuan faraid dan had;
b.    Mengandung sindiran-sindiran terhadap kaum munafik, kecuali surat           Al-Ankabut [29]; dan
c.    Mengandung uraian tentang perdebatan dengan Ahli Kitabin.[21]
Berdasarkan titik tekan tematis, para ulama merumuskan ciri-ciri spesifik Makkiyah dan Madaniyyah sebagai berikut :
1.    Makkiyyah :
a.    Menjelaskan ajakan monotheisme, ibadah kepada Allah semata, penetapan risalah kenabian, penetapan hari kebangkitan dan pembalasan, uraian tentang Kiamat dan perihalnya, neraka dan siksanya, surga dan kenikmatannya, dan mendebat kelompok musyrikin dengan argumentasi-argumentasi rasional dan naqli;
b.    Menetapkan fondasi-fondasi umum bagi pembentukan hukum syara' dan keutamaan-keutamaan akhlak yang harus dimiliki anggota masyarakat. Juga berisikan celaan-celaan terhadap kriminalitas-kriminalitas yang dilakukan kelompok musyrikin, mengonsumsi harta anak yatim secara zalim serta uraian tentang hak-hak;
c.    Menuturkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu serta perjuangan Muhammad dalam menghadapi tantangan-tantangan kelompok musyrikin;
d.   Ayat dan suratnya pendek-pendek dan nada serta perkataannya agak keras; dan
e.    Banyak mengandung kata-kata sumpah.



2.    Madaniyyah :
a.    Menjelaskan permasalahan ibadah, muamalah, hudud, bangunan rumah tangga, warisan, keutamaan jihad, kehidupan sosial, aturan-aturan pemerintah, menangani perdamaian dan peperangan, serta persoalan-persoalan pembentukan hukum syara';
b.    Mengkhitabi Ahli Kitab Yahudi dan Nashrani dan mengajaknya masuk lslam, juga menguraikan perbuatan mereka yang telah menyimpangkan Kitab Allah dan menjauhi kebenaran serta perselisihannya setelah datang kebenaran;
c.    Mengungkap langkah-langkah orang-orang munafik;
d.   Surat dan sebagian ayat-ayatnya panjang-panjang serta menjelaskan hukum dengan terang dan menggunakan ushlub yang terang pula.[22]
Ciri-ciri spesifik yang dimiliki Madaniyyah, baik dilihat dari perspektif analogi ataupun tematis, memperlihatkan langkah-langkah yang ditempuh lslam dalam mensyariatkan peraturan-peraturannya, yaitu dengan cara periodik (hierarkis/tadarruj).
Laporan-laporan sejarah telah membuktikan adanya sistem sosiokultural yang berbeda antara Mekah dan Madinah. Mekah dihuni komunitas atheis yang keras kepala dengan aksinya yang selalu menghalangi dakwah Nabi dan para sahabatnya, sedangkan di Madinah setelah Nabi hijrah kesana, terdapat tiga komunitas. Komunitas muslim yang terdiri dari kelompok Muhajirin dan Anshar, komunitas munafik, dan komunitas Yahudi. Al-Qur’an menyadari benar perbedaan sosio-kultural antara kedua tempat itu. Oleh karena itu, alur pembicaraan ayat yang diturunkan bagi penghuni Mekah sangat berbeda dengan alur yang diturunkan bagi penduduk Madinah.





D.    Klasifikasi Ayat-Ayat dan Surat-Surat Al-Qur’an
Menurut edisi standar Mesir, 86 surat termasuk dalam periode Mekah, sementara 28 surat lainnya berasal dari periode Madinah. Dasar dari determinasi kronologis ini adalah permulaan surat. Sebuah surat, misalnya, dianggap dari Mekah jika ayat-ayat awalnya diturunkan di Mekah, meskipun berisi juga ayat-ayat yang diturunkan di Madinah. Terkadang, ada juga perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin mengenai apakah surat ini termasuk Makkiyyah dan Madaniyyah. Tidaklah mengejutkan jika prinsip klasifikasi yang diterapkan kaum muslimin menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda. Perbedaan kesimpulan ini lebih banyak ditemukan jika dibandingkan dengan yang disimpulkan oleh para sarjana Barat.
Dalam pandangan para sarjana muslim, pijakan pertama untuk mengklasifikasikan bagian ayat-ayat Al-Qur’an adalah hadis dan pernyataan-pernyataan para mufassir belakangan. Meskipun tampak memberi perhatian pada bukti-bukti internal, para sarjana muslim yang mula-mula jarang menggunakannya secara eksplisit dalam argumentasi-argumentasinya. Hadis-hadis yang dipermasalahkan di sini biasanya kurang lebih bermakna bahwa suatu bagian Al-Qur’an tertentu diwahyukan sehubungan dengan peristiwa tertentu. Jadi, surat 'Abasa [80] : 1-10[23] dikatakan diwahyukan ketika seorang buta bernama Abdullah bin Umm Maktum menemui Muhammad tatkala beliau tengah berbincang-bincang dengan beberapa pembesar Quraisy yang diharapkan dapat membujuknya.[24]
Sebuah contoh tentang susunan kronologi revelasi (pewahyuan) Al-Qur’an yang ditulis seorang sarjana klasik, bisa disebutkan di sini, dari lbn Nazhim dalam Al-Fihrits yang memiliki klasifikasi penentuan surat-surat Makkiyyah dari Nu'man lbn Bashir :
No.
Nama Surat
No.
Nama Surat
1.
Surat Al-‘Alaq [96]
36.
Surat Al-Furqan [25]
2.
Surat Al-Qalam [68]
37.
Surat Fathir [35]
3.
Surat Al-Muzammil [73]
38.
Surat Maryam [19]
4.
Surat Al-Mudatstsir [74]
39.
Surat Thaha [20]
5.
Surat Al-Lahab [111]
40.
Surat Al-Waqi’ah [56]
6.
Surat At-Takwir [81]
41.
Surat Asy-Syu’ara [26]
7.
Surat Al-Insyirah [94]
42.
Surat An-Nam [27]
8.
Surat Al-‘Ash [103]
43.
Surat Al-Isra’ [17]
9.
Surat Al-Fajr [89]
44.
Surat Hud [11]
10.
Surat Ad-Dhuha [93]
45.
Surat Ar-Ra’d [13]
11.
Surat Al-Lail [92]
46.
Surat Yunus [10]
12.
Surat Al-‘Adiyah [100]
47.
Surat Al-Hijr [15]
13.
Surat Al-Kautsar [108]
48.
Surat Ash-Shaffat [37]
14.
Surat At-Takwir [102]
49.
Surat Luqman [31]
15.
Surat Al-Ma’un [107]
50.
Surat Al-Mu’minun [23]
16.
Surat Al-Kafirun [109]
51.
Surat Saba’ [34]
17.
Surat Al-Fil [105]
52.
Surat Al-Anbiya’ [21]
18.
Surat Al-Ikhlas [112]
53.
Surat Az-Zumar [39]
19.
Surat Al-Falaq [113]
54.
Surat Al-Mu’min [40]
20.
Surat An-Nas [114]
55.
Surat Fushshilat [41]
21.
Surat An-Najm [53]
56.
Surat Muhammad [47]
22.
Surat ‘Abasa [80]
57.
Surat Az-Zukhruf [43]
23.
Surat Al-Qadar [97]
58.
Surat Ad-Dukhan [44]
24.
Surat Ath-Thariq [85]
59.
Surat Al-Jatsiyyah [45]
25.
Surat Ath-Thin [95]
60.
Surat Al-Ahqaf [46]
26.
Surat Al-Quraisy [106]
61.
Surat Adz-Dzariyyat [51]
27.
Surat Al-Qari’ah [101]
62.
Surat Al-Ghasyiyah [88]
28.
Surat Al-Qiyamah [75]
63.
Surat Al-Kahfi [81]
29.
Surat Al-Humazah [104]
64.
Surat Al-An’am [6]
30.
Surat Al-Mursalat [77]
65.
Surat An-Nahl [16]
31.
Surat Al-Balad [90]
66.
Surat Nuh [71]
32.
Surat Ar-Rahman [55]
67.
Surat Ibrahim [14]
33.
Surat Al-Jin [72]
68.
Surat As-Sajdah [32]
34.
Surat Yaa Siin [36]
69.
Surat Ath-Thur [52]
35.
Surat Al-A’raf [7]
70.
Surat Al-Mulk [67]
71.
Surat Al-Haqqah [69]
77.
Surat Ar-Rum [30]
72.
Surat Al-Ma’arij [70]
78.
Surat Al-Ankabut [29]
73.
Surat An-Naba’ [78]
79.
Surat Al-Muthaffifin [83]
74.
Surat An-Nazi’at [79]
80.
Surat Al-Qamar [54]
75.
Surat Al-Infithar [82]
81.
Surat Ath-Thariq [86]
76.
Surat Al-Insyiqaq [84]


Para sarjana muslim pun sepakat bahwa ayat-ayat yang diturunkan di Madinah bisa saja merupakan bagian dari surat yang dirancang sebagai surat Makkiyyah (menurut prinsip permulaan di atas), atau sebaliknya.[25]
Contoh lainnya adalah kronologi revelasi yang ditulis Abu Al-Qasim               Al-Naisaburi yang mengikuti sistem penanggalan Al-Qur’an berdasarkan sejarah dan masa turunnya (manhaj tarikhi zamani). Ia membagi kronologi Al-Qur’an dalam tiga tahap.[26]
Pertama, tahap permulaan (marhalah ibtida’iyah) :
  1. Surat Al-‘Alaq [96]
  2. Surat Al-Mudatstsir [74]
  3. Surat At-Takwir [81]
  4. Surat Al-A’la [87]
  5. Surat Al-Lail [92]
  6. SuratAl-lnsyirah [94]
  7. Surat Al-‘Adiyah [100]
  8. Surat At-Takwir [102]
9.      Surat An-Najm [53]
Kedua, tahap pertengahan (marhalah mutawasithah) :
  1. Surat ‘Abasa [80]
  2. Surat Ath-Thin [95]
  3. Surat Al-Qari’ah [101]
  4. Surat Al-Qiyamah [75]
  5. Surat Al-Mursalat [77]
  6. Surat Al-Balad [90]
7.      Surat Al-Hijr [15]
Ketiga, tahap akhir (marhalah khatamiyah) :
  1. Surat Ash-Shaffat [37]
  2. Surat Az-Zukhruf [43]
  3. Surat Ad-Dukhan [44]
  4. Surat Adz-Dzariyyat [51]
  5. Surat Al-Kahfi [18]
  6. Surat lbrahim [14]
7.      Surat As-Sajdah [32]
Sistem penanggalan Makkiyyah dan Madaniyyah yang telah dikemukakan seperti terlihat di atas, didasarkan pada tiga asumsi. Pertama, surat-surat Al-Qur’an yang ada sekarag ini merupakan unit-unit wahyu orisinal. Kedua, adalah memungkinkan untuk menetapkan tatanan kronologisnya. Ketiga, bahan-bahan tradisional termasuk literatur hadis, sirah (sejarah), asbab An-Nuzul, nasikh mansukh, serta kitab-kitab tafsir bi Al-ma'tsur telah menyediakan suatu basis yang kukuh untuk penanggalan surat-surat Al-Qur’an. Namun, asumsi-asumsi ini memiliki sejumlah kelemahan mendasar. Lebih jauh, sistem periodisasi Makkiyyah dan Madaniyyah juga tidak memadai sebagai basis kajian-kajian tematis-kronologis Al-Qur’an yang lebih menitikberatkan sistem penanggalannya kepada perkembangan atau peralihan tema dan bagian-bagian individual sebagai unit wahyu orisinil.[27]
Semua upaya modern yang ditunjukkan pada penyusunan periodisasi sejarah   Al-Qur’an berpangkal dari karya pioner yang ditulis oleh seorang sarjana Jerman bernama Theodore Noldeke (Studi Orsinal Noldeke, Geschihte des Qurans), yang pertama kali terbit pada tahun 1860. Edisi keduanya yang telah direvisi dan diperluas oleh muridnya, schwally, dan kemudian oleh Begstrasser dan Pretzel diterbitkan secara berturut-turut pada tahun 1909, 1982, edisi salinan dari ketiga volume tersebut terakhir diterbitkan oleh Hildesheim pada tahun 1961.[28]
Noldeke membagi triparti dari surat-surat Mekah ke dalam periode awal, menengah, dan akhir, suatu standar bagi sarjana-sarjana yang kemudian. Meskipun dia tidak pernah mengklaim bahwa adalah mungkin untuk menetapkan kronologi menyeluruh atas semua teks Al-Qur’an dengan kepastian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan (tujuan Noldeke adalah menetapkan korelasi yang tepat antara relevansi Al-Qur’an dengan framework biografis sirah). Namun, usaha-usaha yang belakangan, terutama yang dilakukan Richard Bell, berupaya menyelesaikan tugas tersebut dengan menyerahkan semua energinya untuk menyusun seluruh kronologis teks Al-Qur’an sampai sekecil-kecilnya. Hasilnya, karyanya itu sungguh-sungguh sangat ekstrensik. Ia lebih mencerminkan karya dari sosok patalogis dari seseorang misionaris Scot ketimbang karya mengenai susunan kronologis revelasi Al-Qur’an. Meskipun banyak sarjana muslim sering menganggap usaha-usaha para sarjana Barat semacam itu sebagai ilmiah (prinsip penentuan turunnya ayat dalam matriks biografis sirah, menurut pendapat mereka, bukanlah merupakan serangan ideologis terhadap kitab suci), kecil kemungkinan bisa dihasilkannya suatu karya yang lebih dari sekedar generalisasi kasar atau umum, bahkan melalui metode-metode modern terbaik sekalipun.
Inilah klasifikasi surat-surat Al-Qur’an sebagaimana diajukan Noldeke :[29]
Periode Mekah I           :  Surat Al-‘Alaq [96], Surat Al-Mudatstsir [4], Surat Al-Lahab [111], Surat Al-Kautsar [108], Surat Al-Humazah [104], Surat Al-Ma’un [107], Surat At-Takwir [102], Surat Al-Fil [105], Surat Al-Lail [92], Surat Al-Balad [90], Surat Al-Insyirah [94], Surat Ad-Dhuha [93], Surat Al-Qadar [97], Surat Ath-Thariq [86], Surat Asy-Syams [91], Surat 'Abasa [80], Surat Al-Qalam [68], Surat Al-A'la [87], Surat Ath-Thin [95], Surat Al-'Ashr [103], Surat Ath-Thariq [85], Surat Al-Muzammil [73], Surat Al-Qari'ah [101], surat Az-Zalzalah [99], Surat Al-lnfithar [82], Surat At-Takwir [81], Surat An-Najm [53], Surat Al-Insyiqaq [84], Surat Al-'Adiyah [100], Surat An-Nazi'at [79], Surat Al-Mursalat [77], Surat An-Naba' [78], Surat Al-Ghasyiyah [88], Surat Al-Fajr [89], Surat Al-Qiyamah [75], Surat                   Al-Muthaffifin [83], Surat Al-Haqqah [69], Surat Adz-Dzariyyat [51], Surat Ath-Thur [52], Surat Al-Waqi'ah [56], Surat Al-Ma'arij [70], Surat Ar-Rahman [55], Surat Al-Ikhlash [112], Surat Al-Kafirun [109], Surat Al-Falaq [113], Surat An-Nas [114], surat Al-Fatihah [1].
Periode Mekah II         :  Surat Al-Qamar [54], Surat Ash-Shaffat [37], Surat Nuh [71], surat Al-lnsan [76], Surat Ad-Dukhan [44], Surat Qaf [50], Surat Thaha [20], Surat Asy-Syura [26], Surat Al-Hijr [15], Surat Maryam [19], Surat Shad [38], Surat Yaa Siin [36], Surat Az-Zukhruf [43], Surat Al-Jin [72], Surat Al-Mulk [67], Surat Al-Mu'minun [23], Surat Al-Anbiya' [21], Surat Al-Furqan [25], Surat Al-lsra' [17], Surat An-Naml [27], Surat Al-Kahfi [18].
Periode Mekah III        :  Surat As-sajdah [32], Surat Fushshilat [41], Surat Al-Jatsiyyah [45], Surat An-Nahl [16], Surat Ar-Rum [30], Surat Hud [11], Surat Ibrahim [14], Surat Yusuf [12], Surat Al-Mu'min [40], Surat Al-Qashshash [28], Surat Az-Zumar [39], Surat Al-Ankabut [29], Surat Luqman [31], Surat Asy-Syura [42], Surat Yunus [10], Surat Saba' [34], Surat Fathir [35], Surat Al-A'raf [7], Surat Al-Ahqaf [46], Surat Al-An'am [6], Surat Ar-Ra'd [13].
Periode Madinah          :  Surat Al-Baqarah [2], Surat Al-Bayyinah [98], Surat              At-Taghabun [64], Surat Al-Jumu'ah [62], Surat Al-Anfal [8], Surat Muhammad [47], Surat Ali ‘Imran [3], Surat Ash-Shaff [61], Surat Al-Hadid [57], Surat An-Nisa' [4], Surat Ath-Thalaq [85], Surat Al-Hasyr [59], Surat Al-Ahzab [33], Surat Al- Munafiqun [63], Surat An-Nur [24], Surat Al-Mujadalah [58], Surat Al-Hajj [22], Surat Al-Fath [48], Surat At-Tahrim [66], Surat Al-Mumtahanah [60], Surat An-Nashr [110], Surat Al-Hujurat [49], Surat Yunus [10], Surat Al-Ma'idah [5].
Sebenarnya, sistem penanggalan empat periode Noldeke di atas, dipengaruhi sistem penanggalan yang dirumuskan Gustav Weil. Weil dipandang sebagai sarjana Barat pertama yang melakukan kajian penanggalan Al-Qur’an dan pendiri madzhab penanggalan empat periode, lewat karya monumentalnya, Histoisch-kristisch Einteitung in der Koran (1844, 1878). Ia menerima teori sarjana muslim bahwa surat-surat Al-Qur’an merupakan unit-unit dari wahyu, sehingga dapat disusun dalam suatu tatanan kronologis dengan berpijak kepada hadis-hadis. Akan tetapi, ia berbeda dengan sarjana muslim ketika membagi surat-surat Makkiyyah ke dalam tiga periode. Periode pertama (awal), kedua (tengah), dan periode ketiga (akhir). Sementara periode Madinah tetap diterimanya.[30]
Titik pembabakan penanggalan empat periode di atas adalah masa Nabi hijrah ke Abesina (± 615 M), waktu kembalinya Nabi dari Tha'if (± 620 M) dan perisitiwa hijrah ke Madinah (± 622 M). Weil juga memperkenalkan tiga kriteria penyusunan kronologis surat-surat Al-Qur’an :
  1. Rujukan pada peristiwa-peristiwa historis yang diketahui dari sumber-sumber lainnya;
  2. Karakter wahyu-wahyu sebagai refleksi dan perubahan-perubahan situasi dan peran Muhammad SAW; dan
3.      Penampakan luaran atau bentuk wahyu. Sistem penanggalan empat periode Weil, asumsinya tentang Al-Qur’an dan kriteria tentang penanggalannya, kemudian mempengaruhi dan diikuti oleh sarjana-sarjana Barat.[31]
Susunan kronologis surat-surat Al-Qur’an versi Weil adalah sebagai berikut :[32]
Periode Mekah I           : Surat Al-'Alaq [96], Surat Al-Mudatstsir [74], Surat Al- Muzammil [73], Surat Al-Quraisy [106], Surat Al-Lahab [111], Surat An-Najm [53], Surat At-Takwir [81], Surat Al-Qalam [68], Surat Al-A'la [87], Surat Al-Lail [92], Surat Al-Fajr [89], Surat Al-'Alaq [96], Surat Al-Insyirah [94], Surat Al-‘Ashr [103], Surat Al-'Adiyah [100], Surat Al-Kautsar [108], Surat At-Takwir [102], Surat Al-Ma'un [107], Surat Al-Kafirun [109], Surat Al-Fil [105], Surat At-Falaq [113], Surat An-Nas [114], Surat Al-Ikhlash [112], Surat ‘Abasa [90], Surat Al-Qadar [97], Surat Asy-Syams [91], Surat Ath-Thariq [85], Surat Al-Balad [90], Surat Ath-Thin [95], Surat Al-Qari'ah [101], Surat Al-Qiyamah [75], Surat Al-Humazah [104], Surat Al-Mursalat [77], Surat Ath-Thariq [86], Surat Al-Ma’arij [70], Surat An-Naba' [78], Surat An-Nazi’at [79], Surat Al-Infithar [82], Surat Al-Waqi'ah [56], Surat Al-Ghasyiyah [88], Surat Ath-Thur [52], Surat Al-Haqqah [69], Surat Al-Muthaffifin [93], Surat Az-Zalzalah [99].
Periode Mekah II         : Surat Al-Fatihah [1], Surat Adz-Dzariyyat [51], Surat Yaa Siin [36], Surat Qaf [50], Sur:at Al-Qamar [54], Surat Maryam [19], Surat Thaha [20], Surat Al-Anbiya' [21], Surat Al-Mu'minun [23], Surat Al-Furqan [25], Surat Asy-Syu’ara [26], Surat Al-Mulk [67], Surat Ash-Shaffat [37], Surat Shad [38], Surat Az-Zukhruf [43], Surat Nuh [71], Surat Ar-Rahman [55], Surat Al-Hijr [15], Surat Al-lnsan [76].
Periode Mekah III        :  Surat Al-A'raf [7], Surat Al-Jin [72], Surat Fathir [35], Surat An-Nam [27], Surat Al-Qashshash [28], Surat Al-lsra [17], Surat Yunus [10], Surat Hud [11], Surat Yusuf [12], Surat Al-An'am [6], Surat Luqman [31], Surat Saba' [34], Surat Az-Zumar [39], Surat Al-Mu'min [40], Surat As-Sajdah [32], Surat Asy-Syu’ara [42], Surat Al-Jatsiyyah [45], Surat Al-Ahqaf [46], Surat Al-Kahfi [18], Surat An-Nahl [16], Surat Ibrahim [14], Surat Fushshilat [41], Surat Ar-Rum [30], Surat Al-Ankabut [29], Surat Ar-Ra'd [13], Surat At-Taghabun [64].
Periode Madinah           : Surat Al-Baqarah [2], Surat Al-Bayyinah [98], Surat At- Taghabun [64], Surat Al-Jumu'ah [62], Surat Al-Anfal [8], Surat Muhammad [47], Surat Ali-'Imran [3], Surat Al-Hasyr [59], Surat An-Nur [24], Surat Al-Munafiqun [63], Surat Al-Ahzab [33], Surat Al-Fath [48], Surat An-Nashr [110], Surat Ash-Shaff [61], Surat Al-Mumtahanah [60], Surat Al-Mujadalah [58], Surat Al-Hujurat [49], Surat At-Tahrim [66], Surat Yunus [10], Surat Al-Ma'idah [5].
Jika dilakukan perbandingan antara kronologis Weil dan Noldeke, terlihat bahwa surat-surat Al-Qur’an yang dimasukkan Weil ke dalam periode Mekah pertama (awal) seluruhnya diterima Noldeke dengan tambahan tiga surat lainnya (surat Al-Fatihah [1], Surat Adz-Dzariyyat [51] dan Surat Ar-Rahman [55]. Demikian pula, dalam periode-periode selanjutnya, hanya terlihat sedikit perbedaan antara kedua sarjana tersebut.
E.     Urgensi Pengetahuan tentang Makkiyyah dan Madaniyyah
An-Naisaburi, dalam kitabnya At-Tanbih 'ala Fadhl 'Ulum Al-Quran, memandang subjek Makkiyyah dan Madaniyyah sebagai ilmu Al-Qur’an yang paling utama. Sementara itu, Manna' Al-Qaththan mencoba lebih jauh lagi dalam mendeskipsikan urgensi mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah sebagai berikut.
1.      Membantu dalam Menafsirkan Al-Quran
Pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa di seputar turunnya Al-Qur’an tentu sangat membantu memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, kendatipun ada teori yang mengatakan bahwa yang harus menjadi patokan adalah keumuman redaksi ayat dan bukan kekhususan. Dengan mengetahui kronologis Al-Qur’an pula, seorang mufassir dapat memecahkan makna kontradiktif dalam dua ayat yang berbeda, yaitu dengan pemecahan konsep nasikh-mansukh yang hanya bisa diketahui melalui kronologi Al-Qur’an.
2.      Pedoman bagi Langkah-langkah Dakwah
Setiap kondisi tentu saja memerlukan ungkapan-ungkapan yang relevan. Ungkapan-ungkapan dan intonasi berbeda yang digunakan ayat-ayat Makkiyyah dan ayat-ayat Madaniyyah memberikan informasi metodologi bagi cara-cara menyampaikan dakwah agar relevan dengan orang yang diserunya. Oleh karena itu, dakwah islam berhasil mengetuk hati dan menyembuhkan segala penyakit rohani orang-orang yang diserunya. Disamping itu, setiap langkah-langkah dakwah memiliki objek kajian dan metode-metode tertentu, seiring dengan perbedaan kondisi sosio-kultural manusia. Periodisasi Makkiyyah dan Madaniyyah telah memberikan contoh untuk itu.
3.      Memberi Informasi tentang Sirah Kenabian
Penahapan turunnya wahyu seiring dengan perjalanan dakwah Nabi, baik di Mekah atau di Madinah, dimulai sejak diturunkannya wahyu pertama sampai diturunkannya wahyu terakhir. Al-Qur’an adalah rujukan otentik bagi perjalanan dakwah Nabi itu. Informasinya tidak bisa diragukan lagi.[33]


[1] Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi ’Ulum Al-Qur’an, (Riyadh: Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadis, 1973), h. 61-62.
[2] Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Beirut: Dar Al-Fikr, Jilid 1), h. 13-14.
[3] Isi ayatnya :
¨bÎ) ©!$# öNä.ããBù'tƒ br& (#rŠxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #n<Î) $ygÎ=÷dr& #sŒÎ)ur OçFôJs3ym tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# br& (#qßJä3øtrB ÉAôyèø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# $­KÏèÏR /ä3ÝàÏètƒ ÿ¾ÏmÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $JèÏÿxœ #ZŽÅÁt/ .
(Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat).
[4] Isi ayatnya :
tPöquø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3øn=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊuur ãNä3s9 zN»n=óM}$# $YYƒÏŠ 4 .
(Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu).
[5] Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi ’Ulum Al-Qur’an, (Riyadh: Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadis, 1973), h. 61.
[6] Ibid, h. 62.
[7] Isi ayatnya :
öqs9 tb%x. $ZÊ{tã $Y7ƒÌs% #\xÿyur #YϹ$s% x8qãèt7¨?^w .`Å3»s9ur ôNyãèt/ ãNÍköŽn=tã èp¤)±9$# 4 šcqàÿÎ=ósuyur «!$$Î/ Èqs9 $oY÷èsÜtFó$# $uZô_tsƒm: öNä3yètB tbqä3Î=ökç öNåk|¦àÿRr& ª!$#ur ãNn=÷ètƒ öNåk¨XÎ)
tbqç/É»s3s9 . 
(Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu Keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu Amat jauh terasa oleh mereka. mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: "Jikalau Kami sanggup tentulah Kami berangkat bersama-samamu." mereka membinasakan diri mereka sendiri[644] dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta).
[8] Isi ayatnya :
ö@t«óur ô`tB $oYù=yör& `ÏB y7Î=ö6s% `ÏB !$uZÎ=ß $uZù=yèy_r& `ÏB Èbrߊ Ç`»uH÷q§9$# ZpygÏ9#uä tbrßt7÷èム.
(Dan Tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: "Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah?).
[9] Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi ’Ulum Al-Qur’an, (Riyadh: Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadis, 1973), h. 61.
[10] Isi ayatnya :
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Y9$# (#rßç6ôã$# ãNä3­/u Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? .
(Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa).
[11] Isi ayatnya :
$ygƒr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# (#qè=ä. $£JÏB Îû ÇÚöF{$# Wx»n=ym $Y7ÍhsÛ Ÿwur (#qãèÎ6®Ks? ÏNºuqäÜäz Ç`»sÜø¤±9$# 4 ¼çm¯RÎ) öNä3s9 Arßtã îûüÎ7B . 
(Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu).
[12] Subhi al-Shalih, Mabahits fi ’Ulum Al-Qur’an, (Beirut: Dar Al-Qalam li al-Malayyin, 1988), h. 168.
[13] Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi ’Ulum Al-Qur’an, (Riyadh: Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadis, 1973), h.       76.
[14] Ibid, h. 60.
[15] Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Beirut: Dar Al-Fikr, Jilid 1), h. 9.
[16] Ibid.
[17] Ibid.
[18] Ibid, h. 9-24.
[19] Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi ’Ulum Al-Qur’an, (Riyadh: Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadis, 1973), h. 61.
[20] Ibid, h. 63-64.
[21] Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi ’Ulum Al-Qur’an, (Riyadh: Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadis, 1973), h. 63-64.
[22] Ibid.
[23] Isi ayatnya :
}§t6tã #¯<uqs?ur ÇÊÈ   br& çnuä!%y` 4yJôãF{$# ÇËÈ   $tBur y7ƒÍôム¼ã&©#yès9 #ª1¨tƒ ÇÌÈ   ÷rr& ㍩.¤tƒ çmyèxÿYtGsù #tø.Ïe%!$# ÇÍÈ   $¨Br& Ç`tB 4Óo_øótFó$# ÇÎÈ   |MRr'sù ¼çms9 3£|Ás? ÇÏÈ
$tBur y7øn=tã žwr& 4ª1¨tƒ ÇÐÈ   $¨Br&ur `tB x8uä!%y` 4Ótëó¡o ÇÑÈ   uqèdur 4Óy´øƒs ÇÒÈ   |MRr'sù çm÷Ztã 4¤Sn=s? ÇÊÉÈ  
(1.Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, 2. Karena telah datang seorang buta kepadanya[1554]. 3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), 4. Atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? 5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup[1555], 6. Maka kamu melayaninya. 7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman). 8. Dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), 9. Sedang ia takut kepada (Allah), 10. Maka kamu mengabaikannya).
[24] Montgomery Watt, Bell’s Introduction to the Quran, (Edinburgh: University Press, 1991), h. 108.
[25] Jurnal kiblat, 5-20 Februari 1987, h. 44.
[26] Subhi al-Shalih, Mabahits fi ’Ulum Al-Qur’an, (Beirut: Dar Al-Qalam li al-Malayyin, 1988), h. 184.
[27] Taufiq Adnan Amal, Tafsir Kontekstual Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1989), h. 92.
[28] Jurnal Kiblat, 5-20 Februari 1987, h. 44.
[29] Montgomery Watt, Bell’s Introduction to the Quran, (Edinburgh: University Press, 1991), h. 110-111.
[30] Ibid, h. 307-309.
[31] Ibid
[32] Ibid
[33] Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi ’Ulum Al-Qur’an, (Riyadh: Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadis, 1973), h. 59-60.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar