SELAMAT DATANG
MUSLIM/AH SEJATI

Kamis, 29 Maret 2012

Makalah Al-Hadits "Ikhlas dalam Beramal".


MAKALAH  AL-HADIS
TENTANG:

“IKHLAS DALAM BERAMAL”
O
L
E
H
H
ARRI ALIANSYAH


My campuezz
JURUSAN JINAYAH SIYASYAH
           INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
        2012          
 
“IKHLAS DALAM BERAMAL
            Ikhlas dalam beramal merupakan sikap yang tiada mengharapkan tujuan lain selain dari pada untuk mendekatkan diri  kepada Allah. Ikhlas dalam beramal tidak boleh diikuti dengan niat riya, yaitu mengharapkan pujian atau kehormatan dari sesamanya. Karena amal yang akan dibalas oleh Allah adalah amal  yang dilakukan karena mengharap kasih dan sayang-Nya, yaitu dengan keikhlasan di dalam hatinya.

            Mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan judul diatas merupakan hal yang sangat penting sekali. Karena banyak sekali orang yang berbuat tidak disertai dengan niat yang ikhlas. Sehingga kita perlu tahu, apa  hal-hal yang  menjadi tolak ukur ikhlas atau tidaknya seseorang dalam berbuat kebajikan. Dan apa jadinya suatu amalan yang dilakukan dengan niat bukan untuk mendapatkan ridha Allah.

Oleh karena itu, agar lebih terarahnya objek bahasan dalam makalah ini, berikut akan dibahas mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan topik  diatas, yaitu.
a.       Niat atau motivasi dalam beramal
1.      Hadis pertama tentang niat beserta penjelasannya
2.      Hadis kedua tentang niat beserta penjelasannya

b.      Menjauhi perbuatan riya dan syirik kecil
1.      Hadis pertama tentang riya beserta penjelasannya
2.      Hadis kedua tentang riya beserta penjelasannya



A.  NIAT ATAU MOTIVASI DALAM BERAMAL

1.      HADIS PERTAMA TENTANG NIAT

عَنْ اَمِيْرِ اْلمُؤْمِنِيْنَ اَبِى حَفْصٍ عُمَرَبْنِ اْلخَطَابِ  بْنِ نُفِيْلِ بْنِ عَبْدِ اْلعُزى بْنِ رِيَاحِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ قُرْطِ بْنِ رَزَاحٍ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِ بْنِ غَالِبِ اْلقُرَيْشِيِ اْلعَدَوِيِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَل اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ يَقُوْلُ اِنمَا اْلَاعْمَلُ بِا النِيَاتِ وَاِنمَا لِكُلِ امْرِئٍ مَانَوَى وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلًى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ  لِدُنْيَا يَصِيْبُهَا اَوِ امْرَاَةُ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ اِلَى مَا هَا جَرَ اِلَيْهِ

“Dari Amir al-Mukminin,Abu Hafs Umar bin Khattab r.a bin Nufail bin Abd al-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Riyah bin Adi Ka’ab bin luay bin Ghalib al-Quraiys al-Adawi berkata,”Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “sesungguhnya sahnya amal itu tergantung dengan niat. Setiap orang akan memperoleh dari apa yang diniatkannya. Jika seseorang itu hijrah untuk Allah dan Rasul-Nya, maka  hijrahnya tersebut diterima oleh Allah dan Rasul. Namun, jika hijrahnya itu untuk dunia yang akan diperolehnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya tersebut sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut”(HR. Bukhari and Muslim)
Rasulullah saw mengeluarkan hadis di atas (asbab al-wurud)- nya ialah untuk menjawab pertanyaan salah seorang sahabat berkenaan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah yang diikuti oleh sebagian besar pejabat.[1] Dalam hijrah itu ada seorang laki-laki yang juga turut hijrah.  Akan tetapi, niatnya bukan untuk kepentingan perjuagan Islam, melainkan untuk hendak menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qais. Wanita itu rupanya sudah bertekad untuk turrut hijrah, sedangkan laki-laki tersebut pada mulanya memilih tinggal di Makkah. Ummu Qais hanya bersedia dikawini di tempat tujuan hijrahnya Rasullah yakni Madinah , sehingga laki-laki itu pun turut hijrah ke Madinah.Ketika peristiwa itu ditanyakan kepada Rasulullah saw, apakah hijrah dengann motif itu diterima atau tidak, Rasulullah menjawab secara umum seperti yang telah disebutkan pada hadis di atas.
Niat berperan penting dalam ajaran Islam, khusunya dalam perbuatan yang berdasarkan perintah syara’ atau menurut sebagian Ulama merupakan sebuah perbuatan yang mengandung harapan untuk mendapat pahala dari Allah SWT. Niat akan menentukan nilai, kualitas, serta hasilnya, yakni pahala yang akan diperolehnya.
Orang yang berhijrah dengan niat ingin mendapatan keuntungan dunia atau ingin mengawini seorang wanita, ia tidak akan medapatkan pahala dari Allah SWT. Sebaliknya, jika seseorang hijrah karena ingin  mendapatkan ridha dari Allah SWT, maka ia akan mendapatkannya, bahkan keuntungan duniapun akan diraihnya. Sebenarnya, hijrah yang dimaksud pada hadis diatas adalah berhijrah dari Makkah ke Madinah, karena pada saat itu penduduk Makkah tidak merespon lagi dakwah Nabi, bahkan mereka ingin mencelakakan Nabi dan Umat slam.  Akan tetapi, setelah Islam jaya, hijrah tersebut lebih tepat diartikan sebagai perpindahan dari kemungkaran atau kebatilan kepada yang hak. Namun  demikian, niat tetap saja sangat berperan dalam menentukan berpahala atau tidaknya setiap hijrah, dalam berbagai bentuknya.
Para Ulama telah sepakat[2],  bahwa niat itu sangat penting dalam menentukan sahnya suatu ibadah. Niat termasuk rukun pertama dalam setiap melakukan ibadah. Tidaklah sah suatu ibadah, seperti shalat, puasa, zakat maupun haji dan lain-lain, jika dilakukan tanpa niat atau dengan niat yang salah.
Setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan, jika niatnya baik (ikhlas) maka yang dia terima adalah kebaikan dari Allah dan jika niatnya tidak baik, maka dia tidak akan menerima kebaikan dari Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang berbunyi:
وَاِنمَا لِكُلِ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya:
“Dan tiap-tiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan”.
Suatu perbuatan yang secara lahiriahnya baik, tetapi niatnya tidak baik maka dia tidak akan mendapatkan kebaikan. Dan perbuatan dosa, walaupun niatnya baik, tetap mendapatkan hukuman. Jadi, ganjaran dan pahala dari Allah itu hanya dapat diperoleh oleh orang-orang yang berbuat kebajikan karena Allah dan Rasul-Nya semata-mata. Perbuatan-perbuatan kebajikan tidak dipandang baik oleh Allah, kalau tidak disertai dengan niat yang ikhlas.  Dan  niat yang ikhlas itu adalah ketetapan hati mencari keridhaan Allah dalam melakukan segala kebajikan.
Zu an-Nun al-Mishri menjelaskan bahwa ada tiga tanda-tanda ikhlas, yaitu:
ثَلَاثٌ مِنْ عَلَامَةِ اْلاِخْلَاصُ اِسْتَوَا اْلمَدْحَ والذم من العامة ونسيان رؤية اْلعَمَلِ فِى اْلاَعْمَالِ راقْتِضَاءُ ثَوَابِ اْلاَعْمَالِ فِى اْلاَخِرَةِ[3]
“Tanda ikhlas ada tiga: pujian dan cercaan dari manusia sama saja baginya, melupakan amal yang telah dilakukannya, dan hanya mengharapkan ganjaran amalnya di akhirat”.

2.      HADIS  KEDUA TENTANG NIAT

عَنِ بْنِ عَباسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنهُ قَالَ النبِي صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ : اِن اللهَ كَتَبَ اْلحَسَنَاتِ وَالسيئَاتِ ثُم بَيْنَ ذَالِكَ فَمَنْ هَم بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَاءِنْ هُوَ هَم بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ اِلَى سَبْعِمِا ئَةِ ضِعْفٍ اِلَى اَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ وَمَنْ هَم بِسَيئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلُهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَاءِنْ هُوَ هَم بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ لًهُ سَيئَةً وَاحِدَةً[4]
Ibnu abbas r.a berkata, Nabi saw bersabda,”Sesungguhnya Allah menulis segala kebajikan dan kejahatan. Kemudian beliau menjelaskan masing-masing kebajikan dan kejahatan. “Maka siapa-siapa yang berkeinginan melakukan sesuatu kebajikan, tetapi ia tidak melakukannya, maka Allah menulis disisi-Nya suatu kebajikan yang sempurna untuknya. Tetapi bila ia berkeinginan melakukan sesuatu kebajikan, lalu mengamalkannya, maka Allah menulis disisi-Nya sepuluh sampai tujuhratus  kali kebajikan untuknya, bahkan sampai dilipatkan gandakan berkali-kali. Dan siapa-siapa yang berkeinginan melakukan kejahatan, tetapi tidak jadi melakukannya, maka Allah menulisnya disisi-Nya suatu kebajikan yang sempurna untuknya dan siapa-siapa yang berkeinginan untuk melakukan kejahatan dan ia melakukannya, maka allah menulis satu kejahatan untuknya”. (HR. Bukhari  and Muslim).

            Dalam sumber lain juga dikatakan hal yang sama mengenai kedudukan niat tersebut, sebagai penguat atas dasar kebenaran hadis tersebut.[5]

             Niat dalam arti motivasi, juga sangat menentukan diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah. Shalat umpamanya, yang dianggap sah menurut pandangan syara’ karena memenui berbagai syarat dan rukunnya, belum tentu diterima dan berpahala kalau yag memotivasinya bukan karena Allah, tetapi karena manusia, seperti yang ingin dikatakan rajin, tekun, baik dan sejenisnya.motivasi dalam melaksanakan setiap amal harus betul-betul ikhlas, hanya mengharapakan ridha Allah saja.


B.     HADIS MENJAUHI PERBUATAN RIYA DAN SYIRIK KECIL

1.      HADIS TENTANG RIYA

عَنْ مَحْمُوْدِبْنِ لُبَيْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْالَ للهِ  صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ : اِن اَخْوَافَ مَااَخَافُ  عَلَيْكُمْ اَلشرْكَ اْلاَصْغَرُ : اَلريَاءُ.[6]
Dari Muhammad bin Lubaid dia berkat, “Rasulullah saw pernah bersabda, “ sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap kamu adalah syirik kecil, yakni riya”.                      (H.R Ahmad dengan sanad hasan)
Hadis di atas mengandung pengajaran bahwa:
a.       Rasulullah sangat mengkhawatirkan umatnya terjerumus kedalam dosa.
b.      Riya merupakan salah satu sifat syirik kepada Allah yang harus dijauhi oleh orang-orang yang beriman. Sementara itu, keharaman syirik sudah sangat jelas  di dalam Al-Quran dan Sunnah.
Pertanyaan pertama yang muncul dalam benak kita setelah membaca hadis diatas adalah kenapa riya itu merupakan sebuah sifat syirik atau menyekutukan Allah. Riya ternyata menjerumuskan kita kepada hal yang sangat dibenci oleh Allah. Bergantung kepada selain Allah adalah sifat yang tidak baik bagi hati. Karena itu akan menimbulkan anggapan bahwa ada sesuatu yang lain yang bisa memberikan kita pahala, kebahagiaan maupun keselamatan selain dari Allah.  Ketika seseorang itu berbuat bukan dikarenakan Allah , maka dapat dikatakan dia sudah menyekutukan Tuhannya, walaupun secara tidak langung ataupun spontan.

Selain menjurus kepad perbuatan syirik, riya juga akan menjadikan segala kebajikan yang telah dilakukan kemudian diiringi dengan hasrat riya, maka ia tidak akan mendapatkan sedikitpun  kebaikan atau balasan dari  Allah. Semuanya akan sia-sia tak berfaedah sedikitpun, yang ia akan dapatkan hanyalah atas apa yang ia harapkan dari keriyaannya itu.
Selain itu, riya selalu menjuruskan seseorang ke dalam hal negatif yang lain, selain daripada sifat syirik kepada Tuhannya yaitu sifat munafik. Karena, bagi orang yang munafik apa yang diucapkan oleh lisannya dan dilakukan oleh ragawinya hanyalah berpura-pura belaka, yaitu antara hati dan lisannya tidak sejalan. Mereka berniat melakukan suatu amal ibadah agar mendapatkan pujian dari orang-orang di sekitarnya, seperti tetangganya mungkin atau kerabatnya. Tetapi dia mengatakan bahwa dia melakukan amal ibadah tersebut karena Allah  dengan penuh keikhlasan, padahal tidak demikian. Disinilah ketidaksesuaian antara hati dengan perbuatan, sehingga ia termasuk ke dalam golongan orang yang munafik. Orang yang munafik  itu ingin menipu Allah, dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya dengan penampilannya tersebut. Tetapi Allah Mahatahu atas segala sesuatu.
Sesungguhnya riya itu memiliki klasifikasi, namun klasifikasi yang paling parah adalah seseorang melakukan ibadah hanya atas dasar riya semata-mata dan sedikitpun tidak mengaharapkan ridha dari Allah. Dengan kata lain, ibadahnya bukan untuk Allah melainkan untuk manusia, sementara yang teringan adalah riya tersebut mendorongnya untuk melakukan ibadah, sehingga jika tidak dilihat oleh orang lain dia  tetap melakukan ibadah. Namun,dia lebih merasa semangat kalau ibadahnya dilihat oleh manusia.[7]

2.      HADIS KEDUA TENTANG RIYA

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةُ رَضِيَ  اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِنَّ اَوَّلَ اَلنَّاسِ يَقْضِيُ عَلًيْهِ يَوْمَالْقِيَامَةِ رَجُلٌ اِسْتَشْهَدَ فِى سَبِيْلِ اللهِ فَاءَتَى بِهِ فَعَرَفَهُ نِعْمُهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ : فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اَشْهَدَ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هًوَ جَرِى. وَ قَدْ قِيْلَ : ثًمَّ اَمَرَبِهِ فَسَحَبَ عَلَى وَجْحِهِ حَتَّى اَلْقَى فِى النَّارِ. وَسَعَ اللهُ  وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْنَافِ اْلمَالِ فَاءَتَى بِهِ فَعَرَفَهُ نِعْمُهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ مِنْهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ اَنْ يُنْفِقَ فِيْهَا اِلَّا اَنْفَقْتُ فِيْهَالَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيْقَالَ هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيْلَ ثُّمَّ اَمَرَ بِهِ فَسَحَبَ عَلَى وَجْحِهِ حَتَّى اَلْقَى فِى النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمُهُ اَوْ قَرَءَ اْلقُرْاَنَ فَاءَتَ بِهِ فَعَرَفَهُ نِعَمِهِ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْ تُهُ وَقَرَءْتُ فِيْكَ الْقُرْاَنَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ عَالِمٌ اَوْ قَرَءْتَ لِيْقَالَ هُوَ قَارشئٌ، ثُمَّ اَمَرَ بِهِ فَسَحَبَ عَلَى وَجْحِهِ حَتَّى اَلْقَى فِى النَّارِ.[8]
Artinya: 
“Abu Hurairah r. a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda , “Sesungguhnya manusia yang pertama kali diadili di hari kiamat  adalah orang-orang yang mati syahid di jalan Allah, maka ia didatangkan dan diperlihatkan nikmat-nikmat sebagai pahalanya, kemudian ia  melihatnya seraya dikatakan  kepadanya, “Amalan apa yang engkau lakukan sehingga memperoleh nikmat-nikat itu? Ia menjawab, “Aku berperang karena-Mu (Ya Allah)”.  Allah menjawaab , “Dusta engkau, sesungguhnya kamu berbuat demikian supaya kamu dikatakan sebagai pahlawan. Dan kmudian malaikat diperintahkan menyeret mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka; seorang yang diberi Allah harta benda, kemudian didatangkan  dan diperlihatkan  kepadanya nikmat-nikkmat sebagai pahalanya lalu ia melihatnya seraya dikatakan kepadanya, “Amalan apakah yang engkau lakukan sehingga engkau mendapatkan nikmat itu?”, ia menjawab, “Aku tidak pernah meninggalkan infak di jalan yang Engkau ridhai YaAllah” melainkan aku berinfak hanya karena-Mu.” Lalu Allah SWT menjawab, “Dusta Engkau, sesungguhnya engkau melakukan demikian itu   supaya kamu dikatakkan sebagai orang yang dermawan.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeret mukanya dan memasukkannya ke dalam neraka. Dan seseorang lagi yang menuntut ilmu dan mengajarkan atau membaca Al-Qur’an, maka didatangkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat sebagai pahalanya, lalu ia melihatnya  seraya dikatakan kepadanya, “Amal apa yang telah engkau lakukan sehingga engakau medapatkan nikmat-nikmat itu?” ia menjawab, “Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya dan memebaca Al-Qur’an hanya untuk-Mu ya Allah.” Kemudian Allah SWT menjawab,”Dusta engkau, sesungguhnya engakau menuntut ilmu supaya engkau dikatakan pintar, dan membaca Al-Qur’an supaya kamu dikatakan Qari’.” Kemudian Allah memerintahkan kepada malaikat untuk meyeret mukanya dan melemparnya ke dalam neraka.”

Penjelasan dari hadis  diatas:
            Hadis diatas menjelaskan betapa pentingnya niat itu dalam melakukan segala hal terutama dala konteks ibadah. Walaupun seseorang melakukan amal ibadah secara terus menerus spenjang hidupnya, itu tidak akan ada artinya dimata Allah jika masih diiringi sifat riya (yang ingin mendapatkan pujian, julukan sebagai orang yang baik dan lainnya).
            Hadis diatas menggambarkan tentang orang yang melakukan amal kebaikan disertai dengan rasa riya. Sehigga apa yang telah ia lakukan tiada berarti apa-apa karena sifat riya tersebut. Misalnya saja seperti hadis diatas, kedudukan berperang di jalan Allah adalah amal yang disukai Allah. Bahkan, orang yang mati syahid karena berperang di jalan Allah di jamin oleh Allah masuk ke dalam surga-Nya. Namun demikian, walaupun kita berperang di jalan Allah sampai mati  itu bukanlah berarti menjamin kita masuk ke dalam surga-Nya Allah, dikarenakan sifat riya. Yang dalam hal ini ingin mendapatkan pujian dari orang lain atau supaya dianggap sebagai pahlawan.
Kesalahan hanya terdapat pada niatnya saja, niat yang buruk akan mendapatkan ganjaran yang buruk pula. Dan niat yang baik, akan mendapatkan kebaikan pula, bahkan kebaikan itu akan dilipat gandakan.
Dalam melakukan kebajikan, sifat riya adalah tantangan yang paling berat untuk dihindarkan oleh kebanyakan manusia. Karena sangat sulit sekali menghindarkan dari pada hal itu. Terkadang tanpa disadari riya sudah masuk ke dalam amal ibadah seseorang.
Kebanyakan orang memang menganggap bahwa riya itu adalah masalah kecil, masalah yang tidak terlalu penting, padahal dapat dari riya itu begitu besar sekali, sehingga riya dapat mengantarkan seseorang itu ke dalam neraka. Seperti telah digambarkan jelas dalam hadis tersebut.
Oleh karenanya, menjaga sifat riya “menempel” dengan amal kebajikan harus kita dihindari. Agar tidak terjadi kesia-siaan dalam amal ibadah kita. Apa gunanya melakukan amal ibadah tetapi malah menjerumuskan kita ke jalan kehancuran. Kehati-hatian dalam melakukan suatu amal kebaikan adalah hal yang harus kita lakukan, agar kita terhindar dari malapetaka dan kesia-siaan.
Untuk menghindari diri dari sifat riya tersebut adalah dengan senantiasa berifat ikhlas dalam melakukan amal ibadah tersebut. Ihklas adalah ketetapan hati mencari keridhaan Allah dan pahala dari-Nya dalam melakukan segala kebajikan.[9] Jika kita dalam melakukan kebajikan dengan niat yang ikhlas, maka kita akan terbebas dari sifat riya.


[1]  Rahmat Syafe’i, Al-Hadis Aqidah, Ahklak, Sosial dan Hukum, hal. 56.

[2]  Rahmat Syafe’i, Al-Hadis Aqidah, Ahklak, Sosial dan Hukum, hal. 57.

[3] Abdul Hamid Ritonga, Hadis seputar Islam dan Tata Kehidupan, hal 65.

[4] Muslich Maruzi, Kolekso Hadis Sikap Dan Pribadi Muslim (Jakarta:Pustaka Amani, 1955), hal 45.
[5] Husein Bahreisj, Hadis Shahih Al-Jami’ush Shahih  Bukhari Muslim (Surabaya:CV Karya Utama,2009). Hal 7.
[6] Rahmat Syafe’i, Al-Hadis Aqidah, Ahklak, Sosial dan Hukum, hal. 62.
[7] Abdul Hamid Ritonga, Hadis seputar Islam dan Tata Kehidupan, hal 71-72.
[8] Rahmat Syafe’i, Al-Hadis Aqidah, Ahklak, Sosial dan Hukum, hal.65-66.
[9] M. Thalib, Butir-Butir Pendidikan Dalam Hadis (Surabaya: Al-Ikhlas, 1986), hal 11.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar